Oleh: Baliprov media
baliprov.org – Hari ini, Senin, 10 November 2025, bertepatan dengan momen Hari Pahlawan Nasional, masyarakat Hindu Bali menjalani hari dengan perhitungan unik berdasarkan sistem penanggalan warisan leluhur. Menurut perhitungan Saka dan Pawukon, hari ini jatuh pada Soma Umanis Sungsang.
Informasi ini menjadi panduan penting, terutama bagi umat yang hendak menentukan hari baik (Dewasa Ayu) untuk upacara atau kegiatan tertentu.
Rincian Lengkap Penanggalan Bali Hari Ini
Sistem penanggalan Bali menggunakan kombinasi tiga unsur utama, yaitu Saptawara (7 harian), Pancawara (5 pasaran), dan Wuku (30 mingguan).
| Aspek Penanggalan | Nama Hari Bali | Deskripsi |
| Saptawara | Soma | Hari ke-2 dalam siklus mingguan (Senin). |
| Pancawara | Umanis | Hari ke-2 dalam siklus pasaran (melambangkan tenaga keheningan). |
| Wuku | Sungsang | Wuku ke-10 dari 30 Wuku yang merupakan siklus kalender Bali. |
| Nama Hari | Soma Umanis Sungsang | Kombinasi unik penanggalan hari ini. |
Ala Ayuning Dewasa: Hari Baik dan Buruk
Dalam tradisi Bali, setiap hari memiliki vibrasi energi yang berbeda, yang disebut Ala Ayuning Dewasa. Energi ini menentukan baik atau buruknya suatu hari untuk melaksanakan karya/upacara tertentu.
Hari Baik untuk Pemujaan dan Pembangunan (Dewasa Ayu)
Menurut perhitungan Dewasa hari ini, terdapat beberapa rerahinan yang bersifat baik:
- Amerta Dadi: Sangat baik untuk melaksanakan upacara Dewa Yadnya (pemujaan dewa-dewi) dan menghaturkan persembahan kepada leluhur.
- Dauh Ayu: Oleh karena itu, hari ini dianjurkan bagi yang berencana membuat awig-awig (peraturan desa adat) atau melakukan pembangunan fisik secara umum.
- Kala Dangastra: Baik untuk pekerjaan yang melibatkan pertahanan, seperti membuat tembok pekarangan.
Peringatan: Hari Kurang Baik untuk Karya Besar (Alahing Dewasa)
Namun demikian, masyarakat harus waspada karena Soma Umanis Sungsang juga bertepatan dengan rerahinan yang bersifat buruk (Alahing Dewasa):
- Carik Walangati: Tidak disarankan sama sekali untuk melangsungkan upacara Wiwaha (pernikahan) atau upacara kematian besar (Atiwa-tiwa/Ngaben).
- Salah Wadi: Di samping itu, hari ini juga kurang baik untuk semua jenis Manusa Yadnya (seperti potong gigi dan potong rambut) dan Pitra Yadnya (upacara penguburan).
- Kaleburau: Selain itu, hari ini dianggap kurang baik untuk memulai karya ayu atau melaksanakan upacara suci penting lainnya.
Dengan demikian, jika Anda berencana melakukan upacara pernikahan atau potong gigi, disarankan untuk menunda ke hari lain yang memiliki Dewasa Ayu lebih kuat.
Filosofi Wuku Sungsang: Simbol Kekacauan Awal, Penyeimbangan, dan Penempatan Pura
Wuku Sungsang adalah wuku ke-10 dari 30 wuku dalam siklus kalender Bali. Nama Sungsang memiliki makna harfiah “terbalik”, yang merujuk pada konsep filosofis yang sangat mendalam dalam siklus kehidupan dan kosmos.
1. Makna Filosofis “Sungsang” (Terbalik)
Secara filosofis, Wuku Sungsang melambangkan keadaan awal atau kondisi sebelum terjadinya keseimbangan.
- Simbol Kekacauan Awal: Sungsang diartikan sebagai “terbalik” atau “tidak pada tempatnya”. Ini merepresentasikan masa di mana segala sesuatu belum tertata sempurna, sebuah fase kekacauan (pralina) minor sebelum mencapai tatanan baru (samsara).
- Awal Perjuangan: Periode Sungsang sering kali dikaitkan dengan perjuangan antara kebaikan (dharma) dan keburukan (adharma), yang berujung pada Wuku berikutnya, yaitu Wuku Galungan (Dunggulan). Inilah yang menjadi landasan mengapa rangkaian Hari Raya Galungan dan Kuningan dimulai segera setelah Sungsang.
2. Wuku Sungsang dan Hari Raya Galungan
Wuku Sungsang memiliki kaitan yang sangat erat dengan Hari Raya Galungan.
| Unsur Keterkaitan | Penjelasan |
| Purnama/Tilem Sungsang | Meskipun Hari Raya Galungan jatuh pada Wuku Dunggulan, momen penting dalam Wuku Sungsang sering kali menjadi penentu tanggal-tanggal suci berikutnya. Hal ini menandai dimulainya rentetan upacara untuk membersihkan diri dan lingkungan sebagai persiapan menyambut kemenangan dharma. |
| Dewa yang Berkuasa | Wuku Sungsang berada di bawah pengaruh Dewa Gana (Ganesha), yaitu dewa yang dikenal sebagai Ganapati atau penyingkir segala rintangan (Vighneshvara). Peran Dewa Gana di masa ini menekankan perlunya mengatasi hambatan dan kekacauan (makna “Sungsang”) agar dapat mencapai keseimbangan dan kemenangan. |
3. Dewasa Ayu dalam Wuku Sungsang
Meskipun memiliki makna “terbalik” yang sering dikaitkan dengan ketidaksempurnaan, Wuku Sungsang justru dianggap sebagai waktu yang baik untuk kegiatan yang berhubungan dengan “penempatan” dan “penetapan”.
- Penyucian dan Penetapan: Berdasarkan ala ayuning dewasa dalam Wuku Sungsang, hari-hari di dalamnya sering kali baik untuk kegiatan yang bersifat suci dan permanen, seperti:
- Mendirikan/Memasang Pelinggih (tempat suci): Ada kepercayaan bahwa energi sungsang (terbalik) cocok untuk “menetapkan” fondasi.
- Upacara Ngeratep: Yaitu upacara penyucian dan pemujaan terhadap benda-benda suci.
- Pembuatan Awalan (Pagar/Batas): Memperkuat batasan spiritual dan fisik.
Singkatnya, Wuku Sungsang adalah pengingat dalam kalender Bali bahwa keseimbangan (dharma) tidak dicapai tanpa melalui fase kekacauan dan penataan ulang. Ia adalah fase persiapan spiritual yang intens, di mana umat diajak untuk menghadapi dan mengatasi segala sesuatu yang “terbalik” atau kurang selaras dalam diri mereka, sebelum merayakan kemenangan di Wuku Dunggulan (Galungan).
Menuju Rerainan Besar: Galungan dan Kuningan
Meskipun hari ini bukan hari raya besar, kalender Bali menunjukkan bahwa umat Hindu tengah memasuki persiapan menyambut dua hari raya besar yang sudah sangat dekat:
- 19 November 2025: Hari Raya Galungan
- 29 November 2025: Hari Raya Kuningan
Sebagai penutup, pemahaman akan kalender bali hari ini 10 November 2025 berfungsi sebagai peta spiritual dan adat agar setiap langkah yang diambil selaras dengan alam dan ajaran Dharma.
Baca Juga: Cek Sekarang Anggara Paing Sungsang! Kalender Bali 11 November 2025
Untuk melihat penjelasan lengkap wuku dan dewasa ayu di Tanggal lainnya kunjungi Kalender bali
